Jumat, 09 Agustus 2013

KANCIL

 photo sangkancil_zps53a4ed7b.jpg

Pada zaman dahulu, hiduplah sekumpulan hewan di hutan yang sangat lebat. Binatang tersebut hidup dengan rukun, bercanda gurau satu sama lain. Di kumpulan binatang tersebut ada seekor kancil yang sangat sombong, dia merasa dirinya yang paling hebat diantara teman-temannya yang lain. Pada suatu hari sekumpulan hewan itu berjalan mencari kawannya yang lain. Di saat itu kancil berada di barisan yang paling depan dan siput berada di paling belakang di antara teman-temannya yang lain.
“Hai, kak siput, jalanmu lambat sekali. Kapan sampainya? Bangsa siput memang pemalas! Lihatlah, bertahun-tahun hidup dalam air, tetapi badannya tetap saja hitam legam!” Komentar kancil sinis.
“Kak kancil, tak baik menghina bangsa lain,” kata monyet.
“Ah, memang benar, kok, siput pemalas,” kata kancil.
“Lalu kau mau apa?” kata siput marah.
“Ha….ha…, terserah padamu!” kancil tertawa mengejek.
“Bagaimana kalau kita lomba lari?” ajak siput.
“Ha…ha…, apa aku tak salah dengar? Kau dengar usul simpatik itu, kak monyet?”
“Saya dengar, tapi saya kira kak siput hanya berolok-olok,” jawab monyet.
“Aku tidak berolok-olok, kak monyet. Aku menantang kancil berlomba lari. Sekali lagi, menantang, bukan mengejek!”
“Berani atau tidak? Uh, siput hitam sombong! Tak tahu malu! Aku cukup melangkah dua langkah untuk mengalahkanmu!”
“Sudahlah, cil. Kalau kau punya harga diri, terimalah tantanganku. Tapi saya ingatkan, pertandingan ini harus ada panitia khususnya.”
“Aku akan membentuk panitianya,” kata monyet.
Saat perlombaan pun tiba. Sebelum perlombaan dimulai, monyet selaku panitia mengumumkan bahwa pertandingan ini untuk mempertahankan harga diri. Perlombaan ini pun bukan untuk menciptakan permusuhan antara keturunan kancil dan siput di kemudian hari.
Perlombaan pun dimulai. Setelah berjalan lima langkah, kancil ingin memastikan, bahwa siput masih ada pada tempat semula.
“Siput ……!” serunya.
“Uuut…….!” Jawab siput dimuka kancil.
Kancil kaget mendengar suara siput yang berasal dari arah didepannya. Itik yang bertugas sebagai pengamat juga kaget mendengar suara siput yang ada di depan kancil.
Kancil kembali berlari. Setelah sepuluh langkah, kancil ingin memastikan bahwa siput ada di belakangnya.
“Siput…..!” seru kancil.
“Uuut……!” jawab siput di depan kancil.
Begitulah seterusnya sampai akhirnya kira-kira empat langkah lagi dari garis akhir, dengan yakin kancil berseru, “Sipuuuuuut….!”
“Selamat datang, kak kancil,” kata siput yang lebih dulu muncul di tepi kali.
“Sayang, kak kancil terlambat selangkah,” kata anggota panitia yang ,menuggu di garis finish.
Menggelegarlah sorak penonton saat mengetahui bahwa siput yang menang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Baca Juga

 photo headcybernotes_zpsd7f31036.jpg